Murakami Yuka adalah seorang guru di sekolah khusus laki-laki.
Dia masih lajang dan tidak punya pacar.
Meskipun mencari pacar melalui aplikasi kencan, dia tidak kunjung bertemu pria yang tepat.
Terakhir kali dia punya pacar sudah 5 tahun yang lalu.
Usianya akhir 20-an, usia di mana gairah seksual mencapai puncaknya.
Di sekolah, para siswa laki-laki yang sedang dalam masa pubertas seperti monyet yang sedang birahi, menyebarkan aroma jantan, melontarkan pembicaraan mesum, dan puncaknya, dengan santainya mereka bahkan menyentuh pantatnya.
Rasa sange yang terus menumpuk.
Kondisinya sudah hampir mencapai batas maksimal.
Suatu hari saat jam istirahat, Yuka yang sudah tidak tahan lagi, melakukan onani di dalam sekolah.
Hal itu ketahuan oleh seorang siswa.
Pada saat itu, seluruh pertahanannya runtuh.
“Aku tidak boleh menyentuh muridku sendiri.”
Meskipun pikirannya berkata begitu.
Namun, gairah seksual yang meluap-luap tidak bisa lagi dibendung.
Dia mengisap kontol siswa tersebut, sambil memainkan klitorisnya sendiri dengan hebat.
“Bu Guru, apa-apaan ini, ternyata mesum juga ya (tertawa)”
Saking nikmatnya batang daging di depan matanya setelah sekian lama, dia sampai melupakan betapa menyebalkannya siswa yang tersenyum menyeringai itu.
Dalam sekejap, rumor hari itu menyebar ke seluruh siswa.
Gairah seksual Yuka sudah begitu penuh hingga dia tidak punya tenaga lagi untuk membantahnya.
Dia mengumpulkan para siswa dan hari ini pun dia ngewe, ngewe, dan terus ngewe tanpa henti.