“Kelihatan lho, Yuuri-san...”
“Memang sengaja aku perlihatkan, Sho-kun?”
Di hadapanku yang hanya menginginkan kehidupan sehari-hari yang damai, muncul sosok yang disebut sebagai kakak pacarku, sang **“predator yang dominan”**.
Perbedaan yang putus asa: Keindahan lekuk tubuh yang begitu kejam, yang mendefinisikan sang adik sebagai “berada di bawahnya sebagai seorang wanita”.
Kekuatan fisik yang meyakinkan: Bukan dengan kata-kata manis, melainkan dengan **“kekuatan otot, stamina, dan fleksibilitas”** yang terlatih, dia menghancurkan akal sehatku.
Jebakan yang disengaja: Keringat yang menetes dan pose yang diperhitungkan mendorong pengendalian diri seorang pria hingga ke titik kritis.
“Kalau kamu bisa jujur, aku akan memberimu hadiah.”
Cinta dengan kepadatan otot tinggi yang tidak memberikan jalan keluar.
Sekarang, batas itu runtuh.