Suami dan anak laki-lakiku selalu memandang rendah dan meremehkanku... Aku yang telah kehilangan tempat di rumah, bahkan di organisasi PTA (Persatuan Orang Tua Murid), yang terpaksa kuikuti karena tidak bisa menolak, aku hanya dianggap sebagai 'tenaga bantuan' yang bisa dimanfaatkan sesuka hati. Di tengah hari-hari yang membosankan dan suram, cahaya terang datang menghampiriku dalam sosok Pak Guru Saji, guru baru di sekolah. Tertarik oleh kelembutannya, kegiatan PTA yang awalnya kubenci berubah menjadi kesenangan rahasia... Tanpa kusadari, kami mulai melakukan pertemuan rahasia berulang kali. Meskipun secara logika aku tahu ini salah, namun tubuhku bereaksi dengan sangat hebat terhadap kenikmatan sebagai seorang wanita yang berdenyut di lubuk hatiku yang terdalam...