Sekolah ini didirikan sebagai bagian dari upaya mengatasi penurunan angka kelahiran. Para siswa, baik laki-laki maupun perempuan, diterima masuk dengan premis bahwa mereka akan melakukan seks satu sama lain dalam pelajaran, dan kurikulumnya pun dirancang agar hubungan seksual pasti dilakukan. Sekolah ini didirikan untuk menghadapi "hasrat seksual" dari tiga keinginan utama manusia dengan sungguh-sungguh, agar prioritas "seks" ditempatkan lebih tinggi di masyarakat umum, serta menjadi sekolah yang dapat berpikir dan melangkah bersama masa depan para remaja. Upacara pagi → pemerkosaan ekstrem. Pertemuan tiga pihak → pertemuan crot di wajah. Ujian tulis → ujian ereksi. Waktu istirahat → istirahat mesum... dan sebagainya. Para siswa secara sukarela mengalami kurikulum yang mustahil diwujudkan di sekolah biasa, dan menjalani kehidupan sekolah yang dikhususkan untuk seks.