Suami tercinta yang telah melewati masa senang maupun susah bersama selama 19 tahun pernikahan. Putra tunggal kami pun telah tumbuh dewasa, dan aku mengira bisa menghabiskan hari-hari dengan menyenangkan bersamamu lagi seperti saat kita masih muda... Namun, kamu sama sekali tidak melihatku sebagai seorang wanita. Setiap kali aku menyadari hal itu, aku merasa hatiku perlahan-lahan mati, dan kecemasanku akan menjadi tua terus bertambah setiap hari... Sekali lagi, hanya sekali lagi, aku ingin bersinar bukan sebagai seorang istri, bukan pula sebagai seorang ibu, melainkan sebagai seorang wanita. Di suatu tempat, 'wanita' di dalam diriku masih mendambakan untuk dipeluk dengan kuat oleh seorang pria. Karena itulah hari ini, untuk pertama kalinya aku mengkhianatimu dan akan dipeluk oleh pria lain.