“Siapa pun boleh, tolong selamatkan aku—” Siksaan mental dari suami, tekanan dari ibu mertua, dan isolasi di tempat kerja. Meninggalkan teman dekat di kampung halaman, tidak ada tempat untuk mencurahkan keluh kesah, hingga merasa tidak memiliki tempat bernaung baik di rumah maupun di kantor... Istri-istri kesepian inilah yang mencoba peruntungan melalui aplikasi kencan. Di sana, mereka bertemu dengan seorang pria paruh baya. Pada awalnya, mereka merasa pria ini tidak punya tata krama karena terlalu terburu-buru ingin ngewe, tidak punya uang, tidak punya ambisi, dan yang ada hanyalah tubuh gemuk malas yang buruk rupa. Dia adalah kumpulan dari segala elemen pria tidak populer, dan sejujurnya, dia seharusnya bukan tipe mereka sama sekali. Namun, tanpa disadari, para wanita itu perlahan terobati oleh keceriaan dan kebaikan pria tersebut. “Apa sih bagusnya pria seperti itu?” Mereka tahu pria ini adalah orang yang sering dikatakan demikian oleh orang lain. Namun, para wanita itu mulai berpikir, “Hanya aku yang mengerti pria ini,” dan “Hanya pria inilah yang mengerti aku,” hingga mereka menjadi tergantung dan tidak bisa melihat keadaan sekitar. Pria itu menyembunyikan sifat aslinya sambil terus mengundang para wanita masuk. Kata-kata manis yang diberikan pria itu mungkin semuanya bohong. Namun, tetap saja mereka tidak bisa melawan rasa kesepian ini. Meskipun menyadari kesalahannya, mereka tidak bisa keluar dari 'rawa' obsesi ini. Inilah kisah tanpa masa depan yang ditulis oleh tiga orang istri orang.