Hari ini pun aku mengurung diri, hanya menghabiskan waktu seharian dengan melamun.
Kotak surat di pintu masuk penuh sesak dengan tumpukan brosur dan amplop.
Surat tagihan menumpuk di atas meja.
Sampah yang tidak sempat dibuang berserakan di kamar dan lorong.
Pakaian yang entah kapan terakhir dipakai juga berantakan di mana-mana.
Jika aku keluar rumah, aku akan dipelototi dan ditegur oleh para karyawan kantor yang sudah mencapai batas kemampuannya, yang matanya memerah seperti orang yang sudah hancur oleh masyarakat.
Gadis NEET yang memutuskan untuk berhibernasi dari masyarakat ini menghabiskan waktunya dengan malas.
"Sudahlah, aku tidak peduli lagi, lebih baik aku onani saja."
Ah... ah... auah...
Saat itu, aku tidak menyangka bahwa sosokku sedang dilihat oleh budak korporat itu.
Budak korporat yang tiba-tiba datang ke rumahku itu menegur sampah yang kubiarkan tergeletak di lorong, lalu dengan rasa kesal yang tidak bisa disembunyikan, dia memaksa masuk ke kamarku.
Aku didorong hingga jatuh ke tempat tidur, payudaraku diremas-remas, dan meskipun aku mencoba melawan, memekku dipaksa terbuka.
Dijilat, disiksa, dan berkali-kali dipaksa penetrasi dari depan maupun belakang.
Dan ini tidak berakhir dengan sekadar seks sekali pakai; aku diancam dan dipaksa menandatangani kontrak sebagai alat pelampiasan seks...
Kamar yang merupakan satu-satunya tempat berlindungku kini dipenuhi dengan aroma sperma pria itu, dan berkali-kali, berkali-kali, aku terus diperkosa oleh nafsu egois si budak korporat itu.